Jumat, 02 Juli 2010

Nama : Sulvina samuda
Nim : 4508102031

Resensi
Drama: "Tiang-Tiang Masyarakat"

Hendrik Ibsen adalah seorang dramawan Norwegia yang dianggap sebagai dramawan modern pertama yang menekankan pentingnya konflik antara masyarakat dan individu. Banyak aktor kenamaan dunia bercita-cita memainkan tokoh-tokoh ciptaan Ibsen. Tokoh-tokoh tersebut oleh banyak kritikus dianggap sebagai tokoh abadi yang tak lekang oleh waktu, seperti halnya tokoh-tokoh ciptaan shkespeare (romeo dan Juliet). Dalam drama “tiang–tiang masyarakat“ ini tokoh yang paling ditonjolkan adalah Karsten Bernick. Ia adalah seorang yang terpandang dan diseganai oleh seluruh masayarakat karena kedudukan yang dimilikinya sehingga ia seolah–olah bersikap bagaikan dewa yang sama sekali tidak mau menerima kekurangan serta catatan kelam dalam kehidupannya. Dari segi pelukisan tokoh sudah sangat jelas penggambaran karakter yang dituanggkan dalam bahasa yang mudah dipahami. Hanya saja latar khususnya, latar tempat terlalu beragam sehingga, kadang saja membuat bingung para pembacanya. Dari segi pemilihan judul, yakni “Tiang-Tiang Masyarakat” seharusnya “Tiang-Tiang Bengkok Masyarakat”. Karena, judul ini lebih menggambarkan apa sebenarnya yang akan ditampilkan dari suatu kepemimpinan. Apakah keunggulan atau kebobrokan ? “Tiang-Tiang Masyarakat ” terlalu universal. Jadi , sebaiknya disisipi kata “Bengkok” jika kita menbaca “ tiang- tiang masyarakat ”, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa beberapa segi masalah sosial yang ditampilkannya masih kita rasakan di masyarakat sekarang. Apalagi jika kita mempertimbangkan masalah yang lebih mendasar yakni kebenaran dan kebohongan yang sebenarnya menggaris bawahi seluruh drama itu dari satu segi, ia menuntut pengetahuan pembaca Indonesia mengenai berbagai hal yang terjadi di Nowergia pada khususnya, dan eropa barat umumnya dizaman itu. Bisa dibanyagnkan seandainya drama ini dipentaskan di Indonesia seperti apa adanya banyak aspek penting yang lupuk dari apresiasi khayalan dan jika tidak dibekali pengetahuan mengenai hal itu, namun tema dasarnya yang universal itu pasti mendapat tempat dalam pikiran, perasaan, dan pengalaman kita ini.


puisi

Jejak Sejarah Hari ini

Pesta demokrasi baru dirayakan
Hati mungkin mulai resah
Menanti apa jawabnya gerangan
Tak ada yang tahu
Apa yang terjadi besok, lusa, dan seterusnya
Namun,
Dengan segenap harapan,
Rakyat terus menanti
Dengan penuh kesasbaran,
Rakyat terus meringkih
Ada mimpi yang kelak nyata!
Melihat negerinya menjadi bersih,
Dari noda yang selama ini tidak pernah lekang
Kini …..
Sejarah mulai terangsang
Mencatat segala fenomenanya
Mengukir cerita untuk hari esok
Ya ….. hari ini
Kan menjadi bagian kenangan masa depan
Adakah
Cerita indah untuk kita sisahkan
Tuk kita ceritakan
Buat anak cucu kita kelak ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar