RESENSI
DRAMA “I TOLOK”
Drama kisah “I Tolok” merupakan kisah legenda dikalangan masyarakat Bugis-Makassar yang mengisahkan atau menceritakan kepahlawanan serta kebijakan seorang lelaki.Dalam drama tersebut memberi pesan atau amanah yang begitu dalam terhadap pembacanya, identitas para tokoh pun diperjelas dengan baik serta rentetan cerita yang menarik diantaranya yang begitu menarik yaitu didalam drama I Tolok mengisahkan kehidupan Nenek moyang kita yang begitu kental dengan hal-hal mistik seperti makna-makna dari suatu mimpi yang konon mejadi suatu pertanda.Bahasa yang digunakan begitu menarik karena, menggunakan bahasa-bahasa yang puitis atau tidak umum.
Adapun kelemahan yang terdapat pada drama “I Tolok” yaitu dari segi penulisan bahasa, bahasa terjemahan cenderung lebih banyak mengisi dialog yang seharusnya di isi dengan bahasa Bugis-Makassar yang asli dan dari hal tersebut memberi kesan bahwa orisinil atau keaslian dari bahasa pada dialog dalam drama tersebut berkurang.Dalam alur atau kronologis drama “I Tolok” menunjukkan rentetan yang kurang jelas dimana cerita dalam drama tersebut, pada awal ceritanya langsung menyorot klimaks lalu langsung disusul dengan penyelesaian konflik, yang seharusnya ada awal perkenalan konflik sebelum klimaks.
Dalam drama “I Tolok” juga seharusnya lebih banyak menceritakan tentang kisah kepahlawanan tokoh utama sewaktu masih hidup yang merupakan sentral ceriata tetapi, sebaliknya dalam drama tersebut lebih banyak menceritakan kejadian-kejadian setelah kematian tokoh utama.
Dari sisi penokohan yaitu, kelemahan terdapat pada tokoh antagonis dalam drama yaitu Baco’ Pa’tene (pembunuh I Tolok) kehadirannya dalam cerita tidak jelas karena, dalam drama diceritakan begitu saja tanpa adanya faktor pendukung kehadiran tokoh tersebut.
Kemudian kelemahan terakhir terdapat pada setting, dalam drama “I Tolok” kejelasan setting juga tidak ditunjukkan atau yang seharusnya dalam alur pasti terdapat setting yang berbeda-beda namun, dalam drama tersebut pembaca hanya dapat menilai bahwa hanya ada satu setting dalam rentetan cerita yaitu diperkampungan saja, atau dapat juga di katakan sebagai setting umum.
PUISI
BANYOLAN LOBI KAMPUS
Sepatu kuning lewat
Hahahahaha
Sepatu merah lewat
Hahahahaha
Si gundul lewat
Hihhihihihihi
Si gondrong lewat
Hohohohoho
Situ lewat, sini lewat!
Mauku, maunya
Whahahahaha
Kamu aku
Semua, hahihuhoho
(Karya : Widya waty)
Nama : Dian Ekawati
Nim : 45 08 102 037
FKIP : Jur. Bahasa Indonesia
Tugas resensi drma “TIANG-TIANG MASYARAKAT” (Hendrik Ibsen)
Hendrik Ibsen seorang dramawan Norwegia yang dianggap sebagai dramawan moderen pertama yang menekankan pentingnya konflik antara masyarakat dan individu. Banyak aktor kenamaan dunia bercita-cita? memainkan tokoh? ciptaan Ibsen .Tokoh tersebut oleh banyak kritikus dianggap sebagai tokoh abadi yang tak lekang oleh waktu seperti halnya tokoh? ciptaan Shakespeare (Romeo dan Juliet)
Di dalam drama “tiang–tiang masyarakat” ini tokoh yang paling ditonjolkan sekaligus sebagai tokoh utama adalah Karsten Bernick. Dimana dia adalah seorang terpandang dan disegani oleh masyarakat. Karena kedudukan yang dimilikinya sehingga, ia seolah-olah bersikap bagaikan dewa yang sama sekali tidak mau menerima akan kekurangan serta catatan kelam dalam kehidupannya.
Hendrik Ibsen disini mencoba menampilkan berbagai masalah. Terkadang dengan cara yang dibuat? Yang berkaitan dengan perkawinan dan kedudukan orang dalam masyarakat. Dalam peranannya sebagai komentator masalah masyarakat itulah, Ibsen tidak jarang ditolak oleh khalayak sebab dianggap terlalu berani menampilkan borok sosial yang tidak seharusnya diangkat kepentas.
Dari segi penulisan tokoh sudah sangat jelas. Melalui penggambaran karakter yang dituangkan dalam bahasa yang mudah dipahami. Hanya saja, latar khususnya, latar tempat terlalu beragam sehingga kadang kala membuat bingung pembaca.
Dari segi pemilihan judul yakni “tiang-tiang masyarakat ” sebaiknya “tiang-tiang bengkok masyarakat ” karena judul ini lebih menggambarkan yang akan ditampilkan dari suatu kepemimpinan. Apaka kebaikan atau kebobrokan? “tiang-tiang masyarakat” terlalu universal jadi, sebaiknya disisipi kata bengkok untuk memperjelas maksud dari pemaparan yang dimaksudkan.
Jika menafsirkan drama Ibsen ini lebih jauh lagi, sebenarnya yang diangkat bukanlah sekedar masalah perkawinan dan kedudukan orang dalam masyarakat, tetapi masalah kebenaran hidup yang tidak mau menerima kebenaran tentang dirinya sendiri dan juga tidak siap untuk menerima kenyataan masa lampau.
Jika kita membaca “tiang-tiang masyarakat”, mau tidak mau kita harus mengakui beberapa segi masalah sosial yang ditampilkannya, masih kita rasakan dimasyarakat sekarang. apalagi jika kita mempertimbangkan masalah yang lebih mendasar, yakni kebenaran dan kebohongan yang sebenarnya menggarisbawahi seluruh drama itu. Dari satu segi ia menunntut pengetahuan pembaca
JUBAH HITAM GLAMOUR
Hiruk pikuk tawaan
Hangar bingar kesenandungan
Di dalam jubah hitam yang glamour
Rintihan dianggap dendangan
Amarah dianggap kelaziman
Penginjakan kaki-kaki tak beralas
Atas norma-norma keluhuran dan kenuranian
Adakah pernah kau piker?
Kebohongan dianggap kebenaran
Pencabulan dianggap bermartabat
Kehedonisan dianggap kesejajaran
Adakah pernah kau pikir?
Pabila tak pernah kau pikir
Lihatlah dan dengarlah
Hiruk pikuk tawaan
Hingar bingar kesenandungan
Di dalam jubah hitam yang Glamour
(Karya : Dian Ekawati)
Nama : Argandi
Nim : 45 08 182 004
FKIP :Jur.Bahasa
Resensi drama TO’DO’PULI karya Yudhistira SKT
Adapun yang menjadi kelebihan drama ini :
Ø Dari segi tulisan :
Dalam drama ini memiliki tulisan yang sangat jelas baik dari kata-kata hingga tanda baca sehingga apa yag ditulis mudah dipahami atau mudah dipahami dengan jelas
Ø Dari segi kebahasaan
Drama ini memiliki
Menurut pandangan saya mengenai draman ini memiliki cerita yang sangat menarik dimana kerajaan Gowa mengadakan perlawanan terhadap pasukan kompeni Belanda.
Adapun yang menjadi kekurangan draman ini :
Ø Dari segi kebahasaan
Dalam drama ini bagi pembaca tidak mudah dimengerti karena banyak memakai bahasa yang memakai unsur-unsur sastra.
Ø Dari segi ceritanya
Dalam drama ini ceritanya sangat panjang sehingga menimbulkan kebosanan bagi pembaca.
SANG HUKUM ALAM
Sungguh rupawan si Raja surya
Dikala pancarannya menepis kegelapan
Sungguh indah si Ratu bulan
Dikala mengiringi tarian bintang
Ingin rasanya menyatukan keduaanya tetapi,
Huhum alam tak ingin mengetuk
Palu persetujuan
Sejagat raya tak mampu menahan
Kekecewaan
Bersoraklah mereka
Bergeraklah mereka
Menuju hokum alam
Hukum alam tetaplah hokum alam
Dia tak dapat tergoyahkan
Dia tak dapat dilawan
Hanya berdoalah untuk mendapat secuil
Ibah darinya
Nama : Munawir
Nim : 45 08 102 030
FKIP :Jur.Bahasa
Resensi drama TO’DO’PULI karya Yudhistira SKT
Adapun yang menjadi kelebihan drama ini :
Ø Dari segi tulisan :
Dalam drama ini memiliki tulisan yang sangat jelas baik dari kata-kata hingga tanda baca sehingga apa yag ditulis mudah dipahami atau mudah dipahami dengan jelaS.
Ø Dari segi kebahasaan
Drama ini memiliki
Menurut pandangan saya mengenai draman ini memiliki cerita yang sangat menarik dimana kerajaan Gowa mengadakan perlawanan terhadap pasukan kompeni Belanda.
Adapun yang menjadi kekurangan draman ini :
Ø Dari segi kebahasaan
Dalam drama ini bagi pembaca tidak mudah dimengerti karena banyak memakai bahasa yang memakai unsur-unsur sastra.
Ø Dari segi ceritanya
Dalam drama ini ceritanya sangat panjang sehingga menimbulkan kebosanan bagi pembaca.
PUISI
Saat ini aku berada dalam persimpangan
Yang sulit ini aku untuk menentukan
Kearah mana aku mesti berjalan
Dan semakin lama semakin bingun
Aku menentukan
Disatu sisi ada yang mendorongku kearah
Sementara yang lain memanggilku kearah lain
Di dalam kebingungan yang mendalam
Aku semakin sulit menentukan
Hatiku semakin bimbang
Apa yang harus aku lakukan
Tuhan berikan aku jalan yang terang
Agar bisa menentukan arti rasa hatiku
karya Munawir
NAMA : APOLONIUS SARIMAN
NIM : 45 08 102 027
DRAMA
Resensi : Dari cerpen yang brjudul
RAMALAN ‘96
Dalam cerpen ini menceritakan tentang persiapan masa liburan dimana ibu AS bingung untuk menentukan atau memilih tempat berlibur. Adapun tokoh-tokohnya, pk hanafi, bu As, calon menantu, purwoko, dari setiap tokoh memiliki karakter masing-masing namun yang sangat menonjol adalah sifat dari ibu As yang sangat egois dimana ia tidak mau mendengarkan pendapat dari orang lain.
Judul cerpen ialah ramalan ’96 padahal yang dominan diceritakan disini adalah persiapan liburan, jadi menurut saya judul yang tepat ialah “liburan”
Pengarang disini dalam penyusun cerpen ini dominan menggunakan pengalaman baik yang dialami sendiri maupun dilingkungan sekitar sehingga dalam interaksi antara satu tokoh dengan tokoh yang lain itu sangat erat dalam berbahasa
PUISI
Orang Orang dari Masa Lalu
Ia datang
Kemudian pergi
Datang dengan sesuatu asa
Namun pergi tanpa permisi
Ia datang
Kemudian pergi
Secuil senyuman ia pinjamkan
Namun ia pergi
Tanpa kembali menagih senyuman
Karya APOLONIUS SARIMAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar