Selasa, 06 Juli 2010

DRAMA DAN PUISI

Nama : Widya waty
Nim : 45 08 102 015
FKIP : Jur.Bahasa Indonesia

RESENSI

DRAMA “I TOLOK”

Drama kisah “I Tolok” merupakan kisah legenda dikalangan masyarakat Bugis-Makassar yang mengisahkan atau menceritakan kepahlawanan serta kebijakan seorang lelaki.Dalam drama tersebut memberi pesan atau amanah yang begitu dalam terhadap pembacanya, identitas para tokoh pun diperjelas dengan baik serta rentetan cerita yang menarik diantaranya yang begitu menarik yaitu didalam drama I Tolok mengisahkan kehidupan Nenek moyang kita yang begitu kental dengan hal-hal mistik seperti makna-makna dari suatu mimpi yang konon mejadi suatu pertanda.Bahasa yang digunakan begitu menarik karena, menggunakan bahasa-bahasa yang puitis atau tidak umum.

Adapun kelemahan yang terdapat pada drama “I Tolok” yaitu dari segi penulisan bahasa, bahasa terjemahan cenderung lebih banyak mengisi dialog yang seharusnya di isi dengan bahasa Bugis-Makassar yang asli dan dari hal tersebut memberi kesan bahwa orisinil atau keaslian dari bahasa pada dialog dalam drama tersebut berkurang.Dalam alur atau kronologis drama “I Tolok” menunjukkan rentetan yang kurang jelas dimana cerita dalam drama tersebut, pada awal ceritanya langsung menyorot klimaks lalu langsung disusul dengan penyelesaian konflik, yang seharusnya ada awal perkenalan konflik sebelum klimaks.

Dalam drama “I Tolok” juga seharusnya lebih banyak menceritakan tentang kisah kepahlawanan tokoh utama sewaktu masih hidup yang merupakan sentral ceriata tetapi, sebaliknya dalam drama tersebut lebih banyak menceritakan kejadian-kejadian setelah kematian tokoh utama.

Dari sisi penokohan yaitu, kelemahan terdapat pada tokoh antagonis dalam drama yaitu Baco’ Pa’tene (pembunuh I Tolok) kehadirannya dalam cerita tidak jelas karena, dalam drama diceritakan begitu saja tanpa adanya faktor pendukung kehadiran tokoh tersebut.

Kemudian kelemahan terakhir terdapat pada setting, dalam drama “I Tolok” kejelasan setting juga tidak ditunjukkan atau yang seharusnya dalam alur pasti terdapat setting yang berbeda-beda namun, dalam drama tersebut pembaca hanya dapat menilai bahwa hanya ada satu setting dalam rentetan cerita yaitu diperkampungan saja, atau dapat juga di katakan sebagai setting umum.


PUISI

BANYOLAN LOBI KAMPUS

Sepatu kuning lewat

Hahahahaha

Sepatu merah lewat

Hahahahaha

Si gundul lewat

Hihhihihihihi

Si gondrong lewat

Hohohohoho

Situ lewat, sini lewat!

Mauku, maunya

Whahahahaha

Kamu aku

Semua, hahihuhoho

(Karya : Widya waty)





Nama : Dian Ekawati

Nim : 45 08 102 037

FKIP : Jur. Bahasa Indonesia


Tugas resensi drma “TIANG-TIANG MASYARAKAT” (Hendrik Ibsen)

Hendrik Ibsen seorang dramawan Norwegia yang dianggap sebagai dramawan moderen pertama yang menekankan pentingnya konflik antara masyarakat dan individu. Banyak aktor kenamaan dunia bercita-cita? memainkan tokoh? ciptaan Ibsen .Tokoh tersebut oleh banyak kritikus dianggap sebagai tokoh abadi yang tak lekang oleh waktu seperti halnya tokoh? ciptaan Shakespeare (Romeo dan Juliet)

Di dalam drama “tiang–tiang masyarakat” ini tokoh yang paling ditonjolkan sekaligus sebagai tokoh utama adalah Karsten Bernick. Dimana dia adalah seorang terpandang dan disegani oleh masyarakat. Karena kedudukan yang dimilikinya sehingga, ia seolah-olah bersikap bagaikan dewa yang sama sekali tidak mau menerima akan kekurangan serta catatan kelam dalam kehidupannya.

Hendrik Ibsen disini mencoba menampilkan berbagai masalah. Terkadang dengan cara yang dibuat? Yang berkaitan dengan perkawinan dan kedudukan orang dalam masyarakat. Dalam peranannya sebagai komentator masalah masyarakat itulah, Ibsen tidak jarang ditolak oleh khalayak sebab dianggap terlalu berani menampilkan borok sosial yang tidak seharusnya diangkat kepentas.

Dari segi penulisan tokoh sudah sangat jelas. Melalui penggambaran karakter yang dituangkan dalam bahasa yang mudah dipahami. Hanya saja, latar khususnya, latar tempat terlalu beragam sehingga kadang kala membuat bingung pembaca.

Dari segi pemilihan judul yakni “tiang-tiang masyarakat ” sebaiknya “tiang-tiang bengkok masyarakat ” karena judul ini lebih menggambarkan yang akan ditampilkan dari suatu kepemimpinan. Apaka kebaikan atau kebobrokan? “tiang-tiang masyarakat” terlalu universal jadi, sebaiknya disisipi kata bengkok untuk memperjelas maksud dari pemaparan yang dimaksudkan.

Jika menafsirkan drama Ibsen ini lebih jauh lagi, sebenarnya yang diangkat bukanlah sekedar masalah perkawinan dan kedudukan orang dalam masyarakat, tetapi masalah kebenaran hidup yang tidak mau menerima kebenaran tentang dirinya sendiri dan juga tidak siap untuk menerima kenyataan masa lampau.

Jika kita membaca “tiang-tiang masyarakat”, mau tidak mau kita harus mengakui beberapa segi masalah sosial yang ditampilkannya, masih kita rasakan dimasyarakat sekarang. apalagi jika kita mempertimbangkan masalah yang lebih mendasar, yakni kebenaran dan kebohongan yang sebenarnya menggarisbawahi seluruh drama itu. Dari satu segi ia menunntut pengetahuan pembaca Indonesia mengenai berbagai hal yang terjadi di Norwegia pada khususnya, Eropa Barat pada umumnya di zaman itu. Seperti halnya sikap hidup masyarakat Eropa terhadap segalah sesuatu yang terjadi dibenua Amerika yakni tempat pemukiman baru mereka. Kontras Eropa Amerika ini mendapat tempat yang istimewa dalam penggarapan tema “tiang-tiang masyarakat” bisa dibayangkan jika drama ini dipentaskan di Indonesia seperti apa adanya banyak aspek penting yang lupuk dari apresiasi khalayak jika tidak dibekali pengetahuan mengenai hal itu, namun tema dasarnya yang universal mendapat tempat dalam pikiran, perasaan, dan pengalaman kita kini.


PUISI

JUBAH HITAM GLAMOUR

Hiruk pikuk tawaan

Hangar bingar kesenandungan

Di dalam jubah hitam yang glamour

Rintihan dianggap dendangan

Amarah dianggap kelaziman

Penginjakan kaki-kaki tak beralas

Atas norma-norma keluhuran dan kenuranian

Adakah pernah kau piker?

Kebohongan dianggap kebenaran

Pencabulan dianggap bermartabat

Kehedonisan dianggap kesejajaran

Adakah pernah kau pikir?

Pabila tak pernah kau pikir

Lihatlah dan dengarlah

Hiruk pikuk tawaan

Hingar bingar kesenandungan

Di dalam jubah hitam yang Glamour

(Karya : Dian Ekawati)




Nama : Argandi

Nim : 45 08 182 004

FKIP :Jur.Bahasa Indonesia


Resensi drama TO’DO’PULI karya Yudhistira SKT

Adapun yang menjadi kelebihan drama ini :

Ø Dari segi tulisan :

Dalam drama ini memiliki tulisan yang sangat jelas baik dari kata-kata hingga tanda baca sehingga apa yag ditulis mudah dipahami atau mudah dipahami dengan jelas

Ø Dari segi kebahasaan

Drama ini memiliki gaya bahasa yang banyak mengandung unsure-unsur sastra, selain itu memiliki bahasa yang formal.

Menurut pandangan saya mengenai draman ini memiliki cerita yang sangat menarik dimana kerajaan Gowa mengadakan perlawanan terhadap pasukan kompeni Belanda.

Adapun yang menjadi kekurangan draman ini :

Ø Dari segi kebahasaan

Dalam drama ini bagi pembaca tidak mudah dimengerti karena banyak memakai bahasa yang memakai unsur-unsur sastra.

Ø Dari segi ceritanya

Dalam drama ini ceritanya sangat panjang sehingga menimbulkan kebosanan bagi pembaca.


PUISI

SANG HUKUM ALAM

Sungguh rupawan si Raja surya

Dikala pancarannya menepis kegelapan

Sungguh indah si Ratu bulan

Dikala mengiringi tarian bintang

Ingin rasanya menyatukan keduaanya tetapi,

Huhum alam tak ingin mengetuk

Palu persetujuan

Sejagat raya tak mampu menahan

Kekecewaan

Bersoraklah mereka

Bergeraklah mereka

Menuju hokum alam

Hukum alam tetaplah hokum alam

Dia tak dapat tergoyahkan

Dia tak dapat dilawan

Hanya berdoalah untuk mendapat secuil

Ibah darinya

KARYA ARGANDI





Nama : Munawir

Nim : 45 08 102 030

FKIP :Jur.Bahasa Indonesia

Resensi drama TO’DO’PULI karya Yudhistira SKT

Adapun yang menjadi kelebihan drama ini :

Ø Dari segi tulisan :

Dalam drama ini memiliki tulisan yang sangat jelas baik dari kata-kata hingga tanda baca sehingga apa yag ditulis mudah dipahami atau mudah dipahami dengan jelaS.

Ø Dari segi kebahasaan

Drama ini memiliki gaya bahasa yang banyak mengandung unsure-unsur sastra, selain itu memiliki bahasa yang formal.

Menurut pandangan saya mengenai draman ini memiliki cerita yang sangat menarik dimana kerajaan Gowa mengadakan perlawanan terhadap pasukan kompeni Belanda.

Adapun yang menjadi kekurangan draman ini :

Ø Dari segi kebahasaan

Dalam drama ini bagi pembaca tidak mudah dimengerti karena banyak memakai bahasa yang memakai unsur-unsur sastra.

Ø Dari segi ceritanya

Dalam drama ini ceritanya sangat panjang sehingga menimbulkan kebosanan bagi pembaca.



PUISI

Saat ini aku berada dalam persimpangan

Yang sulit ini aku untuk menentukan

Kearah mana aku mesti berjalan

Dan semakin lama semakin bingun

Aku menentukan

Disatu sisi ada yang mendorongku kearah sana

Sementara yang lain memanggilku kearah lain

Di dalam kebingungan yang mendalam

Aku semakin sulit menentukan

Hatiku semakin bimbang

Apa yang harus aku lakukan

Tuhan berikan aku jalan yang terang

Agar bisa menentukan arti rasa hatiku

karya Munawir






NAMA : APOLONIUS SARIMAN

NIM : 45 08 102 027

DRAMA

Resensi : Dari cerpen yang brjudul

RAMALAN ‘96

Dalam cerpen ini menceritakan tentang persiapan masa liburan dimana ibu AS bingung untuk menentukan atau memilih tempat berlibur. Adapun tokoh-tokohnya, pk hanafi, bu As, calon menantu, purwoko, dari setiap tokoh memiliki karakter masing-masing namun yang sangat menonjol adalah sifat dari ibu As yang sangat egois dimana ia tidak mau mendengarkan pendapat dari orang lain.

Judul cerpen ialah ramalan ’96 padahal yang dominan diceritakan disini adalah persiapan liburan, jadi menurut saya judul yang tepat ialah “liburan”

Pengarang disini dalam penyusun cerpen ini dominan menggunakan pengalaman baik yang dialami sendiri maupun dilingkungan sekitar sehingga dalam interaksi antara satu tokoh dengan tokoh yang lain itu sangat erat dalam berbahasa


PUISI

Orang Orang dari Masa Lalu

Ia datang

Kemudian pergi

Datang dengan sesuatu asa

Namun pergi tanpa permisi

Ia datang

Kemudian pergi

Secuil senyuman ia pinjamkan

Namun ia pergi

Tanpa kembali menagih senyuman

Karya APOLONIUS SARIMAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar